User:Site Habib

From Wikipedia, the free encyclopedia
Jump to: navigation, search

Tiga Habib Jakarta dari keturunan Habaib Yang menjadi idola ketika periode 1940-1960, di Jakarta ada tiga habaib yang seiring sejalan dalam berdakwah.memiliki karismatik dan kewibawaan luar biasa, saat itu Jakarta boleh di katakan Hiburan yang bermutu dan bernilai religi,cuma di dapat oleh Tiga Habib ini,Acara belum di mulai tetapi empat sampai lima jam sebelumnya tempat sudah penuh,Tiga Habib ini hampir selalu bersama dalam berda'wah,mereka betul betul Tiga Habib idola di kala itu, dalam melakukan da'wah Tiga Habib ini bagaikan Satu perahu mereka kayuh bersama

Mereka itu:

1.Al'Habib Ali bin Abdurahman Alhabsyi (Kwitang),

2.Al'Habib Ali bin Husein Alatas (Bungur)

3.Al'Habib Salim bin Jindan (Otista).


1.Al'Habib Ali bin Abdurahman Alhabsyi (Kwitang);

Lahir di Jakarta, 20 April 1870 – meninggal di Jakarta, 13 Oktober 1968 pada umur 98 tahun

Beliau adalah salah seorang tokoh penyiar agama Islam tedepan di Jakarta pada abad 20. Ia juga pendiri dan pimpinan pertama pengajian Majelis Taklim Kwitang yang merupakan satu cikal-bakal organisasi-organisasi keagaaman lainnya di Jakarta.

Dalam rangka memantapkan tugas dakwahnya, Habib Ali membangun Masjid ar-Riyadh tahun 1940-an di Kwitang serta di samping masjid tersebut didirikannya sebuah madrasah yang diberi nama Madrasah Unwanul Falah. Tanah yang digunakan untuk membangun masjid tersebut merupakan wakaf yang sebagian diberikan oleh seorang betawi bernama Haji Jaelani (Mad Jaelani) asal Kwitang[1]. Banyak ulama betawi atau Jakarta yang pernah menjadi muridnya atau pernah belajar di madrasah yang didirikannya. Di antara muridnya yang terkenal adalah K.H. ‘Abdullah Syafi’i (pendiri majlis taklim Assyafi'iyah, K.H. Thahir Rohili (pendiri majlis taklim Atthohiriyah dan K.H. Fathullah Harun (ayah dari Dr. Musa Fathullah Harun, seorang bekas pensyarah UKM).

Saat meninggalnya Habib Ali, stasiun penyiaran TV satu-satunya Indonesia saat itu, TVRI, menyiarkan berita wafatnya.Habib Salim bin Jindan membaiat putera Habib Ali yang bernama Muhammad untuk meneruskan perjuangan keagamaan yang dilakukan ayahnya.

2.Al'Habib Ali bin Husein Alatas (Bungur)

Llahir di Huraidhah, Hadramaut, 1 Muharam 1309 H, bertepatan dengan 1889 M.

Al'Habib Ali bin Husen bin Muhammad bin Husein bin Ja`far bin Muhammad bin ali bin Husein bin Al Habib Al Qutub Umar bin Abdurrahman Al Attas bin Aqil bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman Assaqof bin Muhammad Mauladawilah bin Ali bin Muhammad Sahib Mirbath bin Ali Khala` Qasam bin alwi bin Muhammad An-Naqib bin Ali Al `Uraidhi bin Ja`far Ash-Shadiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib suami Fatimah Azzahra binti Rasulullah SAW.

Semenjak usia 6 Tahun beliau belajar berbagai ilmu keislaman Kepada para ulama dan auliya yang hidup di Hadramaut saat itu. Sebagaimana jejak langkah generasi pendahulunya, setelah mendalami agama yang cukup di Hadramaut, pada tahun 1912 M, beliau pergi ketanah suci untuk menunaikan ibadah haji serta berziarah ke makam datuk nya Rasulullah SAW di Madinah., disana beliau menetap di Makkah. Hari-Hari beliau dipergunakan untuk menimba ilmu Kepada para ulama yang berada di Hijaz. Setelah 4 tahun beliau kembali ke Huraidhah dan mengajar disana selama 3 tahun. (Tak banyak sejarawan yang menulis perjalanan beliau hinga kemudian tiba di Jakarta). Guru beliau setelah menetap di Jakarta: Al Habib Abdullah bin Muhsin Al Attas(Empang, Bogor), Al Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al Attas (Pekalongan), Al Habib Muhammad bin Idrus Al Habsy (Surabaya) dan Al Habib Muhammad bin Ahmad Al Muhdor (Bondowoso).

Di daerah Cikini beliau tinggal, sebuah kampung yang masyarakatnya hidup dibawah garis kemiskinan, beliau tinggal bersama-sama rakyat jelata dan setiap orang yang menganal beliau akan berkata “Hidupnya sederhana, tawadhu`, teguh memegang prinsip, menolak pengkultusan manusia, berani membela kebenaran, mendalam dibidang ilmu pengetahuan, luas dalam pemikiran, tidak membedakan antara kaya dan miskin, mendorong terbentuknya Negara Indonesia yanga bersatu, utuh serta berdaulat, tidak segan-segan menegur para pejabat yang mendatannginya da selalu menyampaikan agar jurang pemisah antara pemimpin dan rakyat dihilangkan dan rakyat mesti dicintai”. Hal inilah yang menyababkan rakyat mencintai Al Habib Ali bin Husein Al Attas. Semasa hidupnya beliau tak pernah berhenti dan tak kenal lelah dalam berdakwah. Salah satu karya terbesar beliau adalah “Tajul A`ras fi Manaqib Al Qutub Al Habib Sholeh bin Abdullah Al Attas”, sebuah kitab sejarah para ulama Hadramaut yang pernah beliau jumpai, dari masa penjajahan Inggris di Hadramaut hingga sekilas pejalanan para ulama Hadramaut ke Indonesia. Buku itu juga berisi beberapa kandungan ilmu Tasawuf dan Thariqah Alawiyah. Semasa hidupnya Habib Ali selalu berjuang membela umat, kesederhanaan serta Istiqamahnya dalam mempraktekkan ajaran islam dalam kehidupan sehari- hari menjadi tauladan yang baik bagi umat. Beliau selalu mengajarkan dan mempraktekkan bahwa islam mengajak umat dari kegelapan pada cahaya yang terang, membawa dari taraf kemiskinan Kepada taraf keadilan dan kemakmuran.

Pada 16 Februari 1976, jam 06:10 pagi, Habib Ali bin Husein Al Attas wafat dalam usia 88 tahun, beliau dimakam pada 17 Februari 1976, di pemakaman Al Hawi, Condet, Cililitan, Jakarta Timur.


3.Al'Habib Salim bin Jindan (Otista).

Lahir di Surabaya pada 18 Rajab 1324 (7 September 1906)

Al'Habib Salim bin Ahmad bin Husain bin Saleh bin Abdullah bin Umar bin Abdullah bin Jindan.Habib Salim bin Jindan – yang memiliki koleksi sekitar 15.000 kitab, termasuk kitab yang langka. Sementara Habib Salim sendiri menulis sekitar 100 kitab, antara lain tentang hadits dan tarikh, termasuk yang belum dicetak.

Al'Habib Salim Jindan wafat di Jakarta pada 16 Rabiulawal 1389 (1 Juni 1969) Seperti lazimnya para ulama, sejak kecil ia juga mendapat pendidikan agama dari ayahandanya.Menginjak usia remaja ia memperdalam agama kepada Habib Abdullah bin Muhsin Alatas (Habib Empang, Bogor), Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhar (Bondowoso), Habib Muhammad bin Idrus Alhabsyi (Surabaya), Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf (Gresik), K.H. Cholil bin Abdul Muthalib (Kiai Cholil Bangkalan), dan Habib Alwi bin Abdullah Syahab di Tarim, Hadramaut.Beliau telah mendirikan madrasah di Probolinggo serta mendirikan Majlis Ta’lim Fakhriyyah di Jakarta, selain merantau ke berbagai daerah Indonesia untuk tujuan dakwah dan ta’lim. beliau juga mempunyai banyak murid antaranya Kiyai Abdullah Syafi`i, Habib Abdullah bin Thoha as-Saqqaf, Kiyai Thohir Rohili, Habib Abdur Rahman al-Attas dan masih banyak lagi.

Habib Salim bin Ahmad bin Husain bin Sholeh bin Abdullah bin ‘Umar bin ‘Abdullah (Bin Jindan) bin Syaikhan bin Syaikh Abu Bakar bin Salim adalah ulama dan wali besar ini dilahirkan di Surabaya pada 18 Rajab 1324. Memulakan pengajiannya di Madrasah Al-Khairiyyah Surabaya sebelum melanjutkan pelajarannya ke Makkah, Tarim dan Timur Tengah. Seorang ahli hadis yang menghafal 70,000 hadis

Habib Salim juga aktif dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia sehingga dipenjarakan oleh Belanda. Di zaman penjajahan Jepang, beliau juga sering dipenjara karena ucapan-ucapannya yang tegas, bahkan setelah kemerdekaan Indonesia, beliau juga sering keluar masuk penjara karena kritikannya yang tajam terhadap kerajaan, apalagi dalam hal bersangkutan dengan agama yang senantiasa ditegakkannya dengan lantang.

Sifat dan kepribadian luhurnya serta ilmunya yang luas menyebabkanbanyak yang berguru kepada beliau,

Presiden RI ir. Soekarno sendiri pernah berguru dengan beliau dan sering dipanggil ke istana oleh Bung Karno. Waktu Perjanjian Renvil ditandatangani, beliau turut naik keatas kapal Belanda bersama pemimpin Indonesia lain.

Beliau wafat di Jakarta pada 10 Rabi`ul Awwal dan dimakamkandi Masjid al-Hawi

Akan jarang kita hadapi lagi Tiga Habib Jakarta bersamaan dalam berda'wah / by ; All Habib